CILEGON – Anggota DPRD Kota Cilegon, Buhaiti Romli berharap pemerintah daerah berfikir keras untuk bagaimana mencarikan solusi penyelesaian pembayaran honor daerah bagi para guru madrasah, guru TK, Linmas dan para kader.
Buhaiti menilai, apa yang terjadi saat ini akibat dari gagalnya perencanaan dan pengelolaan keuangan daerah. Sehingga, menjadi konsekuensi bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikannya diluar dari tanggungan terhadap pihak ke tiga.
“Aksi unjuk rasa yang dilakukan terus menerus itu menandakan bahwa mereka membutuhkan honor itu. Tanpa mereka, banyak tugas pemkot yang tidak terselesaikan. Tentunya, pemerintah daerah harus berfikir keras dan tidak boleh melepaskan tanggungjawabnya begitu saja,” ucap Buhaiti yang juga sebagai wakil ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Cilegon, Kamis (23/1/2025).
Apalagi terkait dengan tugas seorang guru, dimana mereka bertugas mencetak generasi bangsa, maka dapat dibayangkan ke depan seperti apa jika pemerintah tidak memiliki orang-orang seperti mereka.
Buhaiti juga mengingatkan, kondisi ini merupakan hal yang perlu menjadi evaluasi penting bagi pemkot cilegon, agar ke depan tidak terulang kembali. Bahkan Buhaiti dapat merasakan bagaimana perasaan mereka jika honor tersebut merupakan sumber pendapatan utama.
“Apa jadinya jika memang honor itu pendapatan satu-satunya. Apapun alasannya ini konsekuensi dan pemerintah daerah harus mencarikan solusinya,” tegasnya.
Buhaiti meminta pemerintah kota tidak bersantai diri, perlu memutar otak agar target penerimaan pendapatan jauh melebihi target.
Beberapa penyebab terjadinya defisit kata Buhaiti adalah, selain rencana pendapatan pajak BPHTB yang meleset, banyak proyek jalan dan gedung yang jor-joran di penghujung tahun, termasuk pengadaan lahannya. Padahal, jika diperhatikan dengan cermat, proyek-proyek tersebut tidak begitu urgent dan bisa dilakukan di tahun berikutnya.
Maka dari itu, pemerintah diharap serius melakukan komunikasi dengan pihak DPRD agar jalan keluar dari permasalahan yang berdampak hingga saat ini dapat terselesaikan dengan baik.
Editor : R Hartono
