JAKARTA — Perkembangan teknologi digital yang makin pesat melahirkan tantangan baru bagi peradaban manusia. Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menilai niat awal manusia menciptakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mempermudah hidup kini berbalik arah. Penggunaan algoritma yang masif dinilai mulai mengambil alih cara manusia berpikir dan mengambil keputusan.
Kondisi tersebut melahirkan figur baru dalam peradaban yang disebut algo sapiens—manusia biologis yang metode berpikir dan keputusan hidupnya sepenuhnya dikendalikan oleh sistem algoritma. “Niat awalnya manusia menciptakan mesin pintar agar bisa membantu mengatasi problem hidupnya. Tetapi perlahan-lahan mesin berbalik mengendalikan bagaimana manusia berpikir dan berperilaku,” kata Komaruddin.
Komaruddin menjelaskan bahwa algo sapiens tidak berubah bentuk menjadi robot. Mereka tetap memiliki emosi, keluarga, dan kehidupan sosial. Namun, pola pikirnya terikat oleh rekomendasi digital—mulai dari informasi yang dibaca, barang yang dibeli, hingga narasi berita yang dipercayai. Perubahan ini terjadi secara halus tanpa disadari oleh pengguna.
Ia juga merujuk pemikiran Shoshana Zuboff dalam buku The Age of Surveillance Capitalism. Dalam karya tersebut, aktivitas digital manusia diekstraksi menjadi data perilaku yang kemudian diolah untuk mengintervensi dan mengarahkan tindakan seseorang di masa depan. Perubahan paradigma ini bergerak dari pengawasan (surveillance), prediksi (prediction), intervensi (intervention), hingga modifikasi perilaku (behavioral modification).
Dampak terhadap otonomi berpikir juga disorot melalui gagasan Franklin Foer dalam World Without Mind. Foer memperingatkan bahwa dominasi perusahaan teknologi besar dapat mengikis ruang kontemplasi pribadi dan mempersempit keberagaman informasi. Seseorang mungkin merasa bebas memilih, tetapi medan pilihannya telah dibatasi dan diatur oleh algoritma.
“Seseorang memang tidak kehilangan kemampuan memilih. Tapi yang terjadi adalah kehilangan kesadaran tentang siapa yang membentuk dan menyediakan lanskap medan pilihannya,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan fenomena masyarakat modern yang kian cemas dan terisolasi, sebagaimana dikemukakan filosof Han Byung-chul dalam The Anxious Society. Ketergantungan pada sistem digital dinilai berisiko mengikis daya ingat, menumpulkan kemampuan analisis, serta mengancam esensi dasar kemanusiaan.
Komaruddin menegaskan bahwa kecerdasan buatan hanya memiliki intelligence berbasis data masa lalu, namun tidak memiliki kebijaksanaan (wisdom).
“Ketika proses berpikir dan mencari telah didelegasikan kepada sistem mesin cerdas, yang hilang bukan sekadar privasi, tetapi esensi kemanusiaan itu sendiri,” pungkasnya.

