JAKARTA – Angin segar persatuan berembus di tengah dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Setelah melewati beda pendapat dalam dinamika organisasi, langkah menuju islah (perdamaian) kini mulai menunjukkan titik terang demi menjaga marwah organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Momentum islah ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mengakhiri perbedaan pandangan yang sempat mewarnai kepengurusan di tingkat pusat maupun daerah. Fokus utama dari upaya perdamaian ini adalah mengembalikan semangat khittah NU sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berfokus pada kemaslahatan umat.
Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf,dalam keterangannya di Jakarta, menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi besar. Namun, semangat persaudaraan (ukhuwah nahdliyyah) harus tetap di atas segalanya.
“Alhamdulillah, hari ini kita semua menjadi saksi sebuah peristiwa yang menyejukkan. Islah telah tercapai, dan kami bersama Rais Aam telah menyepakati bahwa solusi terbaik untuk jam’iyah adalah melalui Muktamar bersama,” ujar Yahya Cholil Staquf, melansir nu.or.id.
Musyawarah kali ini merupakan kelanjutan dari Musyawarah Kubro yang juga digelar di tempat yang sama beberapa hari lalu. Para Masyayikh menilai bahwa sengketa yang dipicu oleh keputusan pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam, yang dinilai tidak sah dan tidak sesuai AD/ART NU, harus diselesaikan melalui jalan islah dan Muktamar yang legitimate dengan melibatkan kedua belah pihak.
Kesepakatan untuk menggelar Muktamar bersama ini dicapai setelah melalui proses negosiasi dan perdebatan yang alot, namun tetap dalam semangat persaudaraan (ukhuwah nahdliyah).
Kehadiran sejumlah tokoh sentral NU menjadi penegas pentingnya pertemuan ini, diantaranya adalah Wakil Presiden RI (2019-2024) yang juga Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, yang pada pertemuan sebelumnya hanya dapat hadir melalui Zoom. Turut hadir pula para Masyayikh dan kiai sepuh lainnya yang menjadi penengah dalam proses dialog. Dengan kesepakatan ini, silaturahim di Lirboyo hari ini secara resmi mengakhiri konflik internal PBNU.
Kepemimpinan PBNU hingga Muktamar mendatang akan tetap berjalan di bawah KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan ini, akan segera dibentuk Panitia Bersama untuk mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU.
Islah kata dia bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata untuk merangkul kembali semua elemen. Dan.memastikan bahwa energi besar Nahdlatul Ulama tidak habis untuk urusan internal, melainkan fokus pada pelayanan masyarakat dan penguatan nilai-nilai moderasi beragama.
(*/NUO)
