Mahasiswa Sebut 24 Tahun Pemerintah Provinsi Lalai, Banten Terbengkalai
SERANG – Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Primordial se-Banten menggelar aksi unjuk rasa tetap di hari ulang tahun Provinsi Banten. Di usia yang tidak lagi muda ini, Pemprov Banten dinilai masih menyisakan berbagai polemik seperti kemiskinan ekstrem, kualitas pendidikan, dan ketertinggalan pembangunan sarana infrastruktur, serta terkiat isu kesehatan yang belum optimal yang sudah diamanatkan UU tahun 45 pasal 28 (ayat) 1.
Untuk mengukur keberhasilan yang dilakukan Pemerintah Banten saat ini, mahasiswa menggunakan skala ideal menyangkut kemiskinan, pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Mereka menilai dari berbagai aspek tersebar, Banten dianggap masih tertinggal.
“Artinya kinerja Pemprov selama ini bobrok, dibuktikan dengan masih tingginya angka kemiskinan diprovinsi banten, sedangkan secara sumberdaya manusia (SDM) meningkat setiap tahunnya,” ujar Arifin Solehudin, perwakilan apolemik Jumat (4/10/2024).
“Kemiskinan masih menjadi polemik, diperkuat dengan catatan buruk provinsi Banten, berturut-turut menduduki angka pengangguran tertinggi se-indonesia terhitung pada tahun 2019-2024,” tambahnya.
Padahal sambung Arifin, Banten memiliki banyak kawasan indrustri yang tersebar di beberapa daerah namun nyatanya itu tidak mampu untuk menyeimbangi angka pengangguran di provinsi Banten.
Hal itu harus menjadi perhatian pemerintah untuk bagaimana mampu memanfaatkan SDM penduduk lokal menjadi skala prioritas bagi indrustri. Banyaknya industri ternyata bukan jawaban untuk mengentaskan angka kemiskinan dan meminimalisir angka pengangguran Kemudian berbicara soal pendidikan, Banten masih belum sepenuhnya ada peningkatan dan pengembangan secara menyeluruh atas tolak ukur indeks pembangunan manusia (IPM) yang ungul dan berkualitas, dibuktikan dengan minat literasi/baca yang rendah.
Kemudian angka putus sekolah yang tinggi, serta managemet sekolah yang masih carut marut, menandakan bahwa pemerintah provinsi Banten belum mampu memberikan infrastruktur yang berkualitas yang sesuai dengan tujuan berdirinya suatu bangsa. Masih banyak sarana dan prasarana pendidikan diberbagai daerah pelosok provinsi Banten yang tidak diperhatikan. Sehingga SDM yang ada tidak diseimbangi dengan IPM yang dikembangkan.
Sektor kesehatan juga turut menjadi sorotan karena sektor kesehatan di Banten sangatlah buruk. Hal itu dibuktikan dengan fenomena masyarakat yang harus ditandu untuk melahirkan sehingga resiko kematian pada ibu hamil sering terjadi, kesejahteraan tenaga medis sering kali menjadi keluhan, akses menuju rumah sakit yang sangat miris dan memprihatinkan tentu ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah.
Adapun tuntutan mahasiswa adalah,
1. Wujudkan Pemerintahan yang Good governance and Clean Goverment
2. Tuntaskan problematika kemiskinan di Provinsi Banten
3. Segara berikan akses jalan yang layak di Provinsi Banten
4. Segera lengkapi tenaga kerja kesehatan dan Puskesmas di Provinsi Banten.
5. Transparasinya anggaran penerangan jalan utama di Provinsi Banten.
6. Wujudkan dan berikan fasilitas pendidikan yang berkualitas di Provinsi Banten.
7. Usir tenaga kerja asing dan perusahaan yang merugikan masyarakat.
8. Wujudkan demokrasi.
9. Tegakkan integritas pilkada
Jika tuntutan para mahasiwa tidak diindahakan dalam waktu 3×24 Jam, maka mereka akan melakukan aksi lanjutan dengan masa yang lebih banyak.
Hidup mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!! Hidup Rakyat Banten!!
Editor : R Hartono
