Catatan Drs. Buhaiti Romli, Menagih Perubahan Nyata di Usia 27 Tahun Cilegon: Antara Stagnasi dan Harapan Baru
Oleh: Buhaiti Romli
(Anggota DPRD Kota Cilegon / Fraksi PAN)
Kota Cilegon baru saja memperingati hari jadinya yang ke-27. Di usia yang seharusnya melambangkan kematangan dan produktivitas, kita justru dihadapkan pada sebuah refleksi pahit, sejauh mana kota ini benar-benar telah bertransformasi untuk rakyatnya?, Jika kita jujur melihat kondisi di lapangan, Cilegon seolah sedang berjalan di tempat atau stag.
Di balik gemerlap statusnya sebagai kota industri dengan nilai investasi yang fantastis, wajah asli Cilegon masih dihiasi oleh segudang persoalan klasik yang tak kunjung menemui titik terang. Pengangguran masih tinggi, kemiskinan tetap membayangi, dan banjir tetap menjadi “tamu rutin” yang merugikan warga setiap musim hujan tiba.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemerintahan, saya melihat kinerja yang ada selama ini belum menunjukkan perubahan signifikan. Kita terjebak dalam rutinitas birokrasi tanpa adanya terobosan yang mampu menyentuh akar masalah secara fundamental.
Paradoks Kota Industri
Sangat ironis ketika kota yang menjadi pusat industri kimia dan baja terbesar di Asia Tenggara ini masih harus berkutat dengan masalah pengangguran yang memprihatinkan. Padahal, logika sederhananya, keberadaan industri harusnya menjadi motor penggerak ekonomi yang menyerap tenaga kerja lokal secara maksimal. Namun, nyatanya, simbiosis antara industri dan masyarakat lokal belum terbangun secara harmonis dan sistematis.
Begitu pula dengan persoalan banjir. Pembangunan yang masif tanpa dibarengi dengan audit PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas) yang ketat telah membuat tata ruang kita berantakan. Drainase yang tidak terintegrasi dan hilangnya ruang resapan air adalah bukti bahwa pengawasan kita selama ini sangat lemah.
Di tengah stagnasi ini, ada harapan baru dari masyarakat terhadap pemimpinnya. Tentu saja, seorang pemimpin memikul beban sejarah untuk memutus mata rantai persoalan yang telah mengakar selama hampir tiga dekade ini.
Masyarakat tidak lagi membutuhkan janji-janji manis di atas kertas atau sekadar seremoni perayaan ulang tahun kota yang mewah. Masyarakat butuh kerja nyata.
Kita paham bahwa mengurai benang kusut pengangguran, kemiskinan, dan banjir tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, langkah nyata itu harus terlihat hari ini, bukan nanti.
Saya berharap, pemerintah mulai berani melakukan langkah-langkah yang tidak populer demi kebaikan jangka panjang. Misalnya, dengan memperketat regulasi PSU melalui Perda yang saat ini sedang kita godok di DPRD, atau dengan menciptakan skema link and match yang lebih berani antara dunia pendidikan lokal dengan industri.
Usia 27 tahun seharusnya menjadi momentum transisi dari kota yang “sedang berkembang” menjadi kota yang “mapan dan mandiri”. Kita tidak boleh lagi terjebak dalam retorika keberhasilan yang hanya bersifat administratif.
Mari kita dukung pemerintahan saat ini untuk mulai mengurai persoalan Cilegon secara nyata, meski perlahan namun pasti. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak diukur dari seberapa banyak piagam penghargaan yang terpajang di dinding kantor wali kota, melainkan dari seberapa kering lantai rumah warga saat hujan dan seberapa banyak dapur warga yang tetap mengepul karena memiliki pekerjaan yang layak.
(*/Red)
