SERANG – Sebanyak 1.552 warga Adat Kanekes resmi melakukan prosesi Seba Baduy di Gedung Negara Provinsi Banten, Sabtu (25/4/2026). Tradisi tahunan yang menjadi simbol kesetiaan masyarakat Baduy terhadap pemerintah ini tidak hanya menarik perhatian warga lokal, tetapi juga menjadi ajang diplomasi budaya yang memukau perwakilan diplomatik dari berbagai belahan dunia.
.
Hadir dalam prosesi sakral tersebut utusan kedutaan besar dari negara-negara sahabat, di antaranya Suriah, Belarus, Bosnia, Iran, Palestina, Rusia, hingga Amerika Serikat. Mereka menyaksikan langsung ketulusan warga Baduy saat menyerahkan hasil bumi kepada Gubernur Banten, Andra Soni, yang mereka sapa sebagai “Bapak Gede”.
Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan kekagumannya atas konsistensi masyarakat Baduy dalam menjaga nilai-nilai luhur di tengah arus modernisasi yang kian kencang.
“Baduy adalah saudara kita. Mereka adalah penjaga alam, budaya, dan disiplin hidup yang luar biasa. Hidup sederhana tanpa ketergantungan teknologi namun tetap mandiri secara ekonomi adalah keteladanan yang nyata bagi kita semua,” ujar Andra Soni di hadapan ribuan hadirin.
Ia menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Banten untuk terus mendukung kebutuhan dasar masyarakat Baduy tanpa merusak atau mengintervensi tatanan adat yang berlaku.
Fenomena Seba tahun ini kembali memperlihatkan keunikan dua golongan besar Suku Baduy yaitu Baduy Dalam. Ciri golongan Baduy Dalam adalah mengenakan pakaian putih yang melambangkan kesucian. Mereka tetap teguh menolak teknologi, menutup diri dari budaya luar, dan tinggal di tiga kampung utama (Cikeusik, Cikertawana, Cibogo).
Kemudian, Baduy Luar. Golongan ini mengenakan pakaian hitam atau biru tua sebagai simbol kesederhanaan. Golongan ini lebih terbuka, mulai mengadopsi teknologi terbatas, dan tinggal di 50 kampung kaki Pegunungan Kendeng.
Meski berbeda secara administratif adat, keduanya kompak melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki dari Desa Kanekes ke Rangkasbitung hingga Kota Serang sebagai bentuk ketaatan mutlak pada tradisi nenek moyang.
Ketua pelaksana kegiatan, Dimyati, menambahkan bahwa Seba Baduy 2026 dikemas dengan berbagai rangkaian acara menarik selama tiga hari (24-26 April 2026).
Selain prosesi utama, perhelatan ini dimeriahkan dengan Pasar Kerajinan & UMKM, Wadah ekonomi kreatif masyarakat Baduy.
Karnaval “Rampak Seba Nusantara”, Parade budaya yang menyambut kedatangan warga Baduy di jantung Kota Serang.
Panggung Seni: Penampilan dari Arkaistone hingga Ubrug Seniki Cilegon yang memperkaya nuansa kultural malam hari.
Rangkaian kegiatan akan ditutup pada Minggu (26/4/2026) melalui tradisi Mumuluk atau sarapan bersama, sebelum warga Baduy dilepas secara resmi menuju Seba Panungtung di Pendopo Kabupaten Serang untuk kemudian kembali ke Pegunungan Kendeng dengan membawa pesan damai bagi alam semesta.
(*/Red)
