CILEGON – Koordinator Presidium MD KAHMI Cilegon, Masduki, menyoroti fenomena “paradoks kemiskinan” yang masih membayangi Kota Cilegon. Di tengah kepungan industri skala internasional yang berdiri megah, penyerapan tenaga kerja lokal dianggap masih jauh dari kata ideal.
Masduki menilai ada hambatan komunikasi yang serius antara regulasi pemerintah daerah dengan kebutuhan rill di sektor industri.
“Kita harus jujur melihat keadaan. Apakah terjadi kebuntuan komunikasi, atau memang belum ada inovasi kebijakan yang mampu mengawinkan kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja lokal kita?” ujar Masduki dengan nada prihatin seusai acara pelantikan MD KAHMI Cilegon, Kamis (30/4/2026) di The Royal Hotel.
Lebih dari sekadar kritik, KAHMI menawarkan solusi konkret melalui penguatan ekosistem UMKM. Masduki mendorong agar perusahaan raksasa seperti PT Krakatau Steel tidak hanya berdiri sebagai entitas bisnis, tetapi menjadi katalisator bagi pengusaha kecil.
Pola kemitraannya bisa berupa pemanfaatan bahan baku industri untuk diolah oleh industri kreatif berbasis UMKM lokal.
Guna memutus rantai pengangguran dari akar, Masduki juga mendesak Pemerintah Kota Cilegon untuk membangun Balai Latihan Kerja (BLK) di setiap kecamatan. Langkah ini dianggap vital agar pelatihan yang diberikan tidak bersifat umum, melainkan spesifik sesuai kebutuhan pasar kerja saat ini.
“Minimal di tiap kecamatan ada pusat pelatihan yang terarah. Targetnya jelas: masyarakat tidak hanya siap menjadi buruh, tetapi juga punya mentalitas dan keahlian untuk menciptakan peluang usaha sendiri secara mandiri,” pungkasnya.
(Dk)

