Sajak Rindu di Langit Cilegon: Saat Ebiet G. Ade Mengetuk Pintu Kenangan
CILEGON – Ada yang berbeda dengan angin malam di Alun-alun Kota Cilegon pada Jumat (24/4/2026) malam. Ribuan orang tak sekadar datang untuk menonton sebuah konser, mereka datang untuk melakukan perjalanan pulang. Di bawah sorot lampu panggung Cilegon Expo 2026, sosok legendaris Ebiet G. Ade hadir membawa “mesin waktu” lewat petikan gitarnya yang khas.
Begitu sosok yang akrab disapa “Ayah” itu muncul dengan kesederhanaan yang berwibawa, riuh tepuk tangan seketika berubah menjadi keheningan yang khidmat. Musik dimulai, dan nostalgia pun tumpah.
Lagu Masih Ada Waktu menjadi pembuka yang kuat, seolah mengingatkan penonton untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia. Suasana semakin larut saat melodi Elegi Esok Pagi dan Camelia II mengalun. Puncaknya, ketika Titip Rindu Buat Ayah dibawakan, Alun-alun Cilegon seolah berubah menjadi ruang refleksi massal—banyak penonton tak kuasa menahan haru, menyeka air mata yang jatuh diam-diam.
Lirik Ebiet bukan sekadar kata-kata; mereka adalah potret kehidupan. Saat lagu Berita Kepada Kawan berkumandang, ribuan suara menyatu, membentuk koor raksasa yang menggema hingga sudut kota.
Malam itu bukan sekadar urusan profesionalisme di atas panggung, tapi juga tentang cinta. Mengingat sang maestro baru saja merayakan ulang tahun ke-72 pada 21 April lalu, sebuah kejutan manis telah disiapkan.
Di pengujung acara, Wali Kota Cilegon, Robinsar, bersama istri melangkah ke panggung membawa kue ulang tahun. Suasana yang tadinya penuh haru berubah menjadi hangat dan ceria. Nyanyian “Selamat Ulang Tahun” dari ribuan orang membuat Ebiet nampak tersentuh, menyunggingkan senyum tulus yang tak lekang oleh usia.
Konser ditutup dengan lagu Aku Ingin Pulang. Sebuah pilihan lagu yang puitis untuk mengakhiri malam yang magis. Penonton pulang tidak hanya membawa kenangan foto di ponsel, tapi membawa pulang rasa damai yang jarang ditemukan di tengah bisingnya industri musik modern.
Di Cilegon malam itu, Ebiet G. Ade kembali membuktikan bahwa musiknya adalah rumah—tempat di mana siapa pun bisa kembali, merenung, dan menemukan jati diri di antara bait-bait lagu.
(Wan)
