CILEGON — Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon masih menyisakan pekerjaan rumah besar menjelang akhir tahun anggaran. Dari total 7.261 rencana paket pengadaan tahun 2026, sebanyak 5.856 paket dilaporkan belum sama sekali diproses hingga periode Agustus 2026. Berdasarkan informasi yang dihimpun melalui Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (Barjas) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Cilegon, paket yang baru rampung ditenderkan baru mencapai 1.294 paket atau sekitar 44 persen dari target keseluruhan. Sementara itu, 111 paket lainnya masih berada dalam tahap proses.
Kepala Bagian Barjas Setda Kota Cilegon, Rommy Dwi Ramansyah, mengungkapkan bahwa sektor pekerjaan konstruksi fisik mencatatkan persentase penyelesaian tertinggi, yakni mencapai 58,14 persen atau 200 dari 344 paket yang ada. ”Untuk konstruksi sudah 58,14 persen, ada yang sedang berproses dan belum masuk. Rata-rata secara keseluruhan paket yang telah selesai mencapai 44 persen,” ujar Rommy, Senin (31/8/2026).
Rincian Progres Pengadaan Per Sektor:
° Pekerjaan Konstruksi: 200 paket selesai (58,14%) | 18 dalam proses | 126 belum proses
° Jasa Konsultasi: 122 paket selesai (47,66%)
° Jasa Lainnya: 622 paket selesai (17%)
° Pengadaan Barang: 350 paket selesai (11,3%)
Rommy merinci, sejumlah proyek fisik bernilai besar saat ini tengah berjalan maupun bersiap memasuki tahap tender. Proyek pembangunan Puskesmas Grogol senilai Rp 15,02 miliar sempat mengalami gagal tender akibat minimnya peserta yang memenuhi syarat. Kendati demikian, tender ulang telah tuntas dan proyek kini sudah mulai dikerjakan.
Selain itu, proyek pembangunan Ruang Terbuka Publik (RTP) senilai Rp 4 miliar dan Rp 200 juta telah rampung. Menyusul dalam waktu dekat, Pemkot Cilegon akan memproses tender lanjutan pembangunan lima lantai RSUD Cilegon, stadion mini dari Dispora, serta fasilitas air lindi dari Dinas Lingkungan Hidup.
Kendati progres fisik berjalan, Rommy tidak menampik masih banyaknya paket yang belum diposisikan akibat hambatan di tingkat Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama pada tahap perencanaan awal.
Ia mencontohkan kasus pada proyek pembangunan stadion mini, di mana perencanaan anggaran senilai Rp 5 miliar mengalami kendala dalam pembagian tahap pengerjaan karena pagu anggaran yang terbatas.
”Informasi dari OPD, kendalanya ada di perencanaan yang masih berproses. Contohnya stadion mini, ada kendala dalam membagi tahapan anggaran dan pembagian puncaknya. Namun, dokumen dan proses validasi terus kita lakukan agar segera ditenderkan,” pungkasnya.
Editor : R Kalista

