CILEGON – Di balik kemudahan teknologi yang ditawarkan gawai (gadget), tersimpan ancaman serius bagi tumbuh kembang anak usia dini. Dalam peringatan Hari Anak Nasional baru-baru ini, praktisi kesehatan anak menyoroti tren peningkatan gangguan perkembangan pada anak yang mencapai puncaknya dalam 15 tahun terakhir.
Jebakan Gawai dan Ilusi Kepintaran Salah satu fenomena kritis yang disoroti adalah anggapan keliru sebagian orang tua yang merasa bangga jika anak bayinya sudah mahir. mengoperasikan gawai atau meniru kata-kata dari video. Faktanya, dokter anak menegaskan bahwa kemampuan tersebut seringkali bersifat pasif dan tidak mencerminkan kecerdasan akademik yang sebenarnya.
Baca juga : Investasi Napas Panjang: Mengapa Skrining Paru di RS Eka Hospital Cilegon Begitu Vital?
Baca juga : Resmi Beroperasi, Eka Hospital Cilegon Wakafkan 1000 Al-Quran di Moment HUT Kota Cilegon ke-27
Paparan gawai, termasuk ponsel, tablet, hingga televisi, telah terbukti secara medis menjadi penyebab utama keterlambatan bicara (speech delay). Hal ini terjadi karena anak hanya menjadi penyerap bahasa secara sepihak tanpa adanya interaksi timbal balik yang diperlukan untuk merangsang kemampuan bicara ekspresif.
Dampak Lebih dari Sekadar Terlambat BicaraKritik tajam diarahkan pada pola asuh yang menjadikan gawai sebagai “pengasuh elektronik” saat orang tua sibuk dengan pekerjaan rumah tangga atau kantor. Pengawasan yang longgar ini tidak hanya berisiko menyebabkan keterlambatan bahasa, tetapi juga memicu gangguan perilaku.
“Bernama orang dewasa pasti ada yang kerja, meskipun ibu rumah tangga pun harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya,” ungkap dr. Dianing Latifah Sp.A, salah satu dokter anak di RS Eka Hospital Cilegon dalam sebuah diskusi medik.
Baca juga : Eka Hospital dan Disnaker Cilegon Sinergi Buka Peluang Kerja di Sektor Kesehatan
Baca juga : Jadi Lokasi Ekspansi Strategis, Eka Hospital Group Bangun Rumah Sakit Di Kota Cilegon
Namun, risiko yang dipertaruhkan adalah munculnya gejala kecanduan gawai hingga gangguan perilaku seperti hiperaktif dan kurang fokus, atau yang dikenal dengan istilah ADHD.
Aturan Main: Bukan Melarang, Tapi MembatasiSesuai dengan panduan internasional dari WHO dan badan pediatrics Amerika, para ahli menetapkan batasan ketat bagi penggunaan layar (*screen time*) pada anak :
° Anak di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak boleh terpapar gawai, kecuali untuk keperluan video call.
° Anak usia 2 hingga 5 tahun: Dibatasi maksimal 30 menit per hari dengan pendampingan penuh orang tua.
° Anak usia sekolah (7-12 tahun): Batasan ideal berada di bawah 2 jam sehari, terutama di luar hari sekolah.
Pentingnya Interaksi Natural Secara kritis, dokter menekankan bahwa pengenalan benda harus dilakukan secara natural sesuai aslinya sebelum dikenalkan melalui gambar atau animasi di layar [10]. Orang tua diingatkan bahwa interaksi manusia tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun dalam proses “asah” perkembangan otak anak.
Jika anak sudah terlanjur mengalami ketergantungan, langkah pertama yang disarankan adalah interaksi timbal balik. Orang tua wajib mendampingi anak saat menonton dan mendeskripsikan secara aktif apa yang dilihat agar terjadi dialog, bukan sekadar menonton pasif.
Editor : R Kalista

