CILEGON – Peristiwa pencabutan aliran listrik Masjid Agung Cilegon menui polemik dan berbuntut panjang. Berbagai elemen masyarakat memprotes sikap dari management PT PLN ihwal pemutusan aliran listrik tersebut, seperti halnya, Ormas GRIB, Akur Sekabeh Cilegon (ASC) dan HMI Cilegon.
H. Sahruji, Ketua DPC GRIB Cilegon meluapkan kemarahannya akibat pemutusan aliran listrik tersebut. Bahkan dirinya akan mendatangi kantor PLN di hari kerja untuk menuntut kejelasan dan mempertanyakan alasan dibalik pemutusan aliran listrik itu.
Hasil konfirmasi Sahruji dengan pihak PLN melalui telponnya menyatakan bahwa hal itu sengaja dilakukan pihak PLN sebagai contoh kepada masyarakat cilegon agar tepat waktu dalam membayar tagihan listrik.
“Sebagai umat Islam, saya mewakili masyarakat cilegon merasa bertanggungjawab atas kejadian itu. Hanya karena telat bayar pihak PLN langsung memutus aliran listrik, seharusnya bisa dilakukan dengan musyawarah terlebih dahulu,” tegas Sahruji.
Silvi Shofawi Haiz, pentolan ASC ini juga berencana mendatangi management PT PLN untuk melakukan audiensi, mempertanyakan alasan pemutusan sekaligus mengklarifikasi ihwal pernyataan supervisor PT PLN terkait sikapnya yang menjadikan hal tersebut sebagai contoh kepada masyarakat Cilegon.
“Terlepas bagaimana kondisi keuangan masjid agung yang menjadi kebanggaan wong cilegon, mbo yak pihak PLN berfikir jernih, itukan masjid, rumah ibadah masa sampai begitu,” ucap Silvy, Rabu (29/1/2025) dikediamannya.
PT PLN kata Silvi, adalah perusahaan milik negara, selain daripada berkewajiban melakukan tugasnya terkait pembayaran listrik, PLN juga bertanggung jawab terhadap tanggungjawab sosial lingkungan masyarakat Cilegon. Karena itu, dia akan mempertanyakan sejauh mana dan apa yang sudah dilakukan ihwal tanggungjawab CSR nya.
“Pertama kita akan tanyakan soal sop pemutusan aliran listrik itu seperti apa. Kemudian, CSR nya untuk masyakarat cilegon nya seperti apa. Jangan hanya tegas mutusin aliran listrik saja, tapi kewajiban terhadap tanggungjawab sosial lingkungannya juga seperti apa?” tegas Silvi.
Atas pernyataan salah satu supervisor PT PLN yang menganggap bahwa pemutusan aliran listrik itu dianggap sebagai contoh disiplin bagi masyarakat cilegon, maka Silvi, orang yang berlatarbelakang pengacara itu meminta agar segera menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Cilegon.
Selain itu, agar persoalan menjadi terang, Silvi juga berencana melakukan komunikasi dengan pihak pengelola masjid Nurul Ikhlas, mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Publik berhak mengetahui bagaimana pengelolaannya, jangan sampai persoalan pengelolaan masjid yang menjadi ikon dan kebanggaan warga cilegon menjadi tidak terawat. Dimana masjid merupakan sarana ibadah bagi seluruh umat muslim sekaligus menjadi tanggungjawab bersama.
Ditambahkan oleh Rahmat Hidayatullah, Ketua HMI Kota Cilegon, merespon dengan tegas apa yang disampikan Supervisor PT PLN terkait pernyataan yang dianggap arogan dan meminta agar segera dipecat.
“Bahasanya itu, ini sebagai pembelajaran Masjid Agung saja kita putus, apalagi masyarakat biasa, inikan pernyataan yang sangat arogan,” ucap Rahmat, dikutip dari Radar Banten.
Berbanding terbalik dengan pernyataan netizen, dimana mereka mempertanyakan pengelolaan keuangan Masjid Nurul Ikhlas, “ore nyambung lur, sing diusut kuen ye DKM e. PLN pasti ngirim surat peringatan ari ore bayar listrik kuen. Komo peringatan arep dicabut kuen pasti ana surate. Sing nerime surate sing budeg. Duite ning endi semono guedene masjid, Menai melembung sing mangan duit masjid,” begitu kata Nazar Thaifah Al-Mansurah dalam postingan akun facebook Berita Bantenesia.
Sebelumnya, berdasarkan informasi beredar, sejak 21 Januari 2025, aliran listrik ke Masjid Agung telah diputus sementara, karena alasan tunggakan tagihan sebesar 3.271.860. Namun saat ini, aliran listrik sudah kembali normal karena tagihan yang dibayarkan oleh Wali Kota terpilih yakni Robinsar pada tanggal 27 Januari 2025. Kendati begitu, efek dari pemutusan aliran listrik tersebut masih bergulir dan memicu kemarahan elemen masyarakat kota cilegon.
Editor : R Hartono
