18 Kecamatan Terdampak Banjir, Pemkab Pandeglang Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi
PANDEGLANG – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kabupaten Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Hal tersebut berkaitan dengan puncak musim penghujan dengan curah tinggi hingga menyebabkan beberapa wilayah di Kabupaten Padeglang dihantam banjir.
Menurut Riza, penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. SK tersebut mulai berlaku sejak 11 November 2024 hingga 31 Januari 2025. “SK tersebut mulai berlaku sejak 11 November 2024 hingga 31 Januari 2025 melalui surat keputusan bupati,” ungkap Riza, Rabu (4/12/2024) kemarin.
SK tersebut kata dia, mencakup langkah-langkah antisipasi dan penanganan bencana, khususnya menghadapi perubahan musim yang dapat memicu berbagai jenis bencana.
“Di dalam SK itu tertuang langkah-langkah antisipasi yang harus segera dilakukan. Saat ini, terdapat 18 kecamatan terdampak banjir, dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter hingga 1 meter,” ucapnya.
Ancaman hidrometeorologi tidak hanya berupa banjir, tetapi juga tanah longsor, pohon tumbang, dan angin kencang. Menurutnya, ada 20 kecamatan di Pandeglang yang tergolong rawan bencana hidrometeorologi.
“Bencana hidrometeorologi mencakup banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan angin kencang. Total ada 20 kecamatan yang masuk wilayah rawan,” katanya.
Sementara itu, Kapolres Pandeglang AKBP Oki Bagus Setiaji menyalurkan bantuan logistik dari Kapolda Banten ke dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan siap saji warga korban bencana banjir. Serta membuka posko layanan pengobatan gratis bagi korban bencana banjir.
Pihaknya juga mengecek langsung kondisi bencana banjir yang melanda warga korban banjir di Kampung Timur, Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, dan melihat bagaimana kesiapsiagaan pemerintah daerah, dari pemerintah kecamatan hingga tingkat desa.

“Alhamdulillah semua sumberdaya ada, mulai dari tenaga kesehatan, tagana, pihak kecamatan, desa hadir semuanya di sini. BPBD juga semua sudah siap membantu masyarakat yang kena musibah banjir,” katanya.
Sebelumnya, pada Rabu (4/12/2024), akibat curah hujan masih tinggi, BPBD-PK Kabupaten Pandeglang mencatat ada sekitar 18 kecamatan di Kabupaten Pandeglang dari 35 kecamatan yang terdampak banjir.
BPBD menyebutkan, banjir itu diakibatkan intensitas curah hujan yang tinggi hingga sampai saat ini masih terus berlangsung.
Sekretaris BPBD-PK Pandeglang, Nana Mulyana mengungkapkan, bahwa banjir telah merendam 18 kecamatan di wilayah tersebut. Meski sebagian wilayah mulai surut, kondisi belum sepenuhnya kembali normal. “Ada 18 kecamatan yang terendam banjir. Kita belum bisa pastikan banjir surut total, paling hanya ada penyusutan,” ujarnya, Rabu (4/12/2024).
Beberapa kecamatan yang terdampak banjir, di antaranya adalah Cikeusik, Angsana, Bojong, Cibaliung, Cigeulis, Cisata, Labuan, Munjul, Pagelaran, Pulosari, Saketi, Sindangresmi, Sobang, Sukaresmi, Panimbang, Picung, dan Menes.
Dari wilayah tersebut, Kecamatan Patia dan Angsana disebut sebagai daerah dengan dampak paling parah. Sementara itu, banjir di lima kecamatan, yaitu Menes, Cibaliung, Pulosari, Labuan, dan Cigeulis. Nana menyebut banjir menyebabkan banyak akses jalan terputus, terutama di desa-desa di Kecamatan Patia. Selain itu, lahan pertanian warga juga terendam.
“Terparah adalah akses jalan menuju desa-desa di Kecamatan Patia yang terputus,” jelasnya.
Menurut data BPBD-PK, sebanyak 4.432 keluarga atau sekitar 15 ribu jiwa terdampak banjir. Namun, angka tersebut masih fluktuatif. Sebagian warga telah mengungsi, sementara lainnya memilih bertahan di rumah. “Warga yang mengungsi kebanyakan berasal dari Kecamatan Pagelaran,” tambahnya.
BPBD-PK telah mendistribusikan bantuan logistik ke sejumlah kecamatan terdampak. Petugas lapangan juga dikerahkan untuk menangani kondisi di lokasi banjir. Nana menyebutkan bahwa beberapa petugas bahkan belum sempat kembali ke posko sejak hari sebelumnya. “Sejumlah personel masih berada di lokasi banjir dan belum bisa bergerak atau pulang sejak kemarin,” tutupnya. (*/Red)

