CILEGON – Dewan Pengurus Daerah (DPD) ASETI Banten resmi dilantik dalam acara yang digelar di Aula DPRD Kota Cilegon, Sabtu (14/2/2026). Pelantikan tersebut menjadi langkah awal penguatan wadah bagi para pelaku seni tari di wilayah Kota Cilegon serta Provinsi Banten secara umum.
Ketua Umum DPD ASETI Banten, Agus Rachmat Ramdan, mengatakan bahwa ASETI hadir sebagai organisasi yang menaungi para seniman tari untuk memperkuat silaturahmi, berbagi informasi, serta membangun sinergi dengan pemerintah maupun lembaga lainnya.
“ASETI ini merupakan asosiasi seniman tari yang menjadi wadah bagi pelaku seni tari. Harapannya, organisasi ini dapat memperkuat jaringan antar seniman, sekaligus bersinergi dengan pemerintah maupun lembaga lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ASETI Banten telah menyiapkan sejumlah program kerja jangka pendek, menengah, hingga panjang. Pada tahun 2026, salah satu agenda utama adalah penyelenggaraan peringatan Hari Tari Dunia yang rencananya digelar pada 29 April mendatang.
Selain itu, ASETI juga menyiapkan program unggulan berupa Banten Dance Festival yang direncanakan berlangsung antara bulan Maret atau Oktober 2026. Dalam kepengurusan, ASETI Banten melibatkan 42 orang yang mencakup unsur pembina hingga pelaku seni tari, seperti koreografer, praktisi, serta pelatih tari.
Ronald, sapaan akrab Agus Rachmat Ramdan, juga menyoroti pentingnya legalitas bagi sanggar maupun komunitas tari di Banten.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat hampir 100 sanggar tari yang tersebar di delapan kabupaten dan kota di Banten. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 25 persen yang memiliki legalitas resmi.

“Setelah pelantikan ini, kami akan langsung melakukan pendataan ulang terhadap sanggar maupun karya para seniman tari. Target kami tentu ingin semua sanggar memiliki legalitas agar bisa mendapatkan fasilitasi dari pemerintah maupun lembaga terkait,” katanya.
Selain legalitas, ASETI juga menargetkan fasilitasi sertifikasi profesi bagi para pelaku seni tari, seperti koreografer muda dan manajemen produksi pertunjukan.
Ia juga mengakui, tantangan dunia tari saat ini cukup besar, terutama karena minat generasi muda yang mulai berkurang. Untuk mengatasi hal tersebut, ASETI Banten menyiapkan berbagai program sosialisasi, workshop, seminar, serta dialog seni tari yang menyasar sanggar, komunitas, hingga dunia pendidikan.
ASETI Banten juga telah meluncurkan buku gerak dasar tari Banten berjudul Senuku Tinggal. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi referensi pembelajaran bagi penari, pelatih, maupun praktisi seni tari.
Ke depan, ASETI Banten juga berencana melakukan riset untuk memperjelas identitas tari Banten, baik dari sisi gerak, sejarah, maupun filosofi.
“Literasi tentang jenis tari di Banten masih terbatas. Karena itu, kami ingin memperkuat identitas tari Banten melalui riset yang berkelanjutan.” Tutup Ronald.
(Dk)

