Kampung Programming Harapan Denok Cilegon Wujudkan Indonesia Emas, Bukti Program Mandiri Tanpa Bantuan Pemerintah

CILEGON – Di tengah tantangan pengangguran yang kian masif, inisiatif “Kampung Programming Harapan Denok” di Kelurahan Lebak Denok, Citangkil, Cilegon, tampil sebagai solusi nyata dan mandiri membangun bangsa. Program pelatihan bahasa asing gratis ini, berada di bawah naungan Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi), yang terus berjalan mandiri dan belum mendapatkan bantuan anggaran dari pemerintah kota. Hal ini disampaikan H. Sokhidin, sebagai penasehat Kampung Programming sekaligus sebagai Wakil Ketua I DPRD Kota Cilegon.

Menurut Sokhidin, keberlanjutan program ini sepenuhnya ditopang oleh dukungan dari pihak eksternal. “Sampai hari ini tidak ada anggaran dari pemerintah, namun program tersebut tetap berjalan. Dan sejauh ini kami dapat dukungan dari para donatur,” ujarnya.

Dukungan signifikan, khususnya dalam bentuk fisik, datang dari Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Banten II Annisa Maharani Azzahra Mahesa, yang telah menyumbangkan 10 unit laptop. Bantuan ini sangat krusial, mengingat dari 60 peserta didik, hanya dua orang yang memiliki laptop pribadi.

Sokhidin, yang juga sebagai kader Gerindra ini menjelaskan bahwa ketersediaan laptop ini mempercepat proses pembelajaran, “Dengan adanya bantuan 10 laptop ini, alhamdulillah jadi dua orang pegang satu, itu akan lebih cepat.” ujarnya.

Program ini tidak hanya fokus pada programming tetapi juga memperluas jangkauannya dengan menawarkan kursus bahasa gratis, meliputi Bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris. Pelatihan bahasa ini merupakan hasil kerja sama strategis dengan beberapa perguruan tinggi dan industri di Banten, sebagai bekal tambahan bagi lulusan agar lebih kompetitif di dunia kerja.

“Tujuan kita adalah untuk masyarakat. Di tengah banyaknya pengangguran, kami berharap Kampung Programming bisa sedikit membantu mengentaskan pengangguran,” ungkapnya, menegaskan visi program yang selaras dengan upaya pemerintah pusat dalam mempersiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas.

Dalam kesempatan ini, Sokhidin juga menyoroti masalah anggaran yang berdampak pada pelayanan dasar, khususnya hilangnya alokasi dana untuk PMT (Penambahan Makanan Tambahan) bagi balita dan ibu hamil di Posyandu. “Padahal dulu ada anggarannya, tapi saya tidak tahu sekarang kok jadi tidak ada,” keluhnya.

Menurutnya, ketiadaan PMT sangat mengurangi minat masyarakat untuk datang ke Posyandu. Selama ini, kebutuhan PMT disokong oleh para donatur, yang mayoritas adalah pengusaha. Namun, para donatur saat ini mulai merasakan kesulitan lantaran dampak konomi dan efisiensi sehingga dikhawatirkan tidak mampu lagi memberikan bantuan.

Karena itu, Sokhidin menegaskan akan terus mendorong pemerintah Kota Cilegon untuk menganggarkan kembali dana bagi Posyantek dan PMT. Ia berharap pemerintah dapat memprioritaskan alokasi dana untuk Posyantek yang memang aktif dan berjalan.

“Program ini benar-benar langsung menyentuh kepada kebutuhan dasar masyarakat. Kami membutuhkan dukungan riil dari pemerintah,” pungkasnya. (Adv)

Leave A Reply

Your email address will not be published.