Keseruan Lomba Tari Anak di Lebak Denok Citangkil Jadi Energi Kebersamaan Warga Sekitar
CILEGON – Semarak rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Link Kapudenok Masjid, Lebak Denok, Citangkil, tak hanya diwarnai dengan aneka lomba tradisional, namun juga menjadi momen istimewa untuk menampilkan bakat dan potensi anak-anak. Kegembiraan ini terasa begitu nyata, di mana lomba tari anak-anak yang digelar pada Jumat (22/8/2025) malam, menjadi pusat perhatian warga. Acara tak hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sebuah panggung kebersamaan yang menguatkan ikatan sosial antar warga.
Lomba dimulai dengan penampilan pembuka yang cukup memukau. Seorang penari cilik bernama Quin, cucu dari tokoh masyarakat setempat, H. Ma’ruf, membawakan Tari Bandong Ing Cilegon dengan gerakan yang luwes dan penuh percaya diri. Quin berhasil menarik perhatian penonton. Penampilannya bukan hanya sekadar tarian, melainkan cerminan dari potensi besar yang perlu terus diasah.
Momen ini menunjukkan bahwa bakat seni, khususnya tari tradisional, dapat menjadi kebanggaan bagi keluarga, lingkungan, serta dapat mengangkat nama bangsa.Bagi warga Lebak Denok, lomba tari ini adalah oase di tengah rutinitas harian yang padat.
Seperti yang disampaikan oleh H. Ma’ruf, ajang ini berfungsi sebagai hiburan yang menyegarkan sekaligus energi positif yang mempererat kebersamaan. “Sebagai orang tua, kami wajib mendukung semua yang berkaitan dengan pendidikan dan eksplorasi bakat anak-anak,” ujarnya. Dukungan ini sangat penting, terutama di lingkungan di mana wadah pengembangan bakat masih terbatas.
Antusiasme juga datang dari Ketua RT 28, Hayatullah, yang melihat acara ini sebagai langkah awal yang baik. Ia menekankan bahwa lomba-lomba yang berpotensi tinggi untuk mengembangkan bakat anak harus lebih ditingkatkan dan diselenggarakan secara lebih serius. “Ada masa depan cerah bagi mereka,” katanya.
Menurutnya, penyelenggaraan pentas tari itu juga menjadi bukti nyata peran aktif masyarakat dalam menumbuhkan potensi anak-anak. Inisiatif seperti ini menunjukkan kesadaran kolektif, dan tidak hanya berpangku tangan menunggu peran pemerintah. Aksi nyata masyarakat adalah wujud kepedulian yang konkret. “Harapannya, pemerintah setempat dapat merespons dan menyediakan wadah yang lebih besar untuk memfasilitasi bakat-bakat muda ini,” tutur H. Ayat, panggilan akrab H. Hayatullah.
Pada akhir acara, panitia menunjukkan apresiasi yang luar biasa. Tidak hanya bagi para pemenang, hadiah juga diberikan kepada seluruh peserta. Strategi ini sangat mendidik, karena menekankan bahwa setiap usaha dan keberanian untuk tampil patut dihargai, terlepas dari hasil akhirnya.
Sikap ini membangun mentalitas positif pada anak-anak, mengajarkan mereka tentang pentingnya proses dan keberanian, bukan hanya kemenangan.Secara keseluruhan, lomba tari di Lebak Denok Citangkil bukan hanya sekadar perayaan HUT RI, melainkan sebuah manifestasi dari semangat gotong royong dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak.
Acara ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan kemajuan komunitas dapat dimulai dari hal-hal kecil, yang jika dilakukan bersama-sama, akan menciptakan dampak yang besar.
Editor : R Hartono
